SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF – SALAFI (AKHLAQI), FALSAFI, DAN SYI’I

BAB II PEMBAHASAN

PENGERTIAN TASAWUF

Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffah yang berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi. Teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata “shuf” yaitu kain yang dibuat dari bulu atau “wool”, dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.

Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang yang berada di serambi masjid dan bulu domba merupakan tinjauan aspek lahiriyah dari shufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih memberatkan pada aspek bathiniyah.

Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan.

Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan tertentu. Ia misalnya harus menempuh beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi dalam bentuk berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu.

Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar Muhammad al-Kalabadzi misalnya, mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa, tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, al-ma’rifat dan kerelaan hati.

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF SALAFI (AKHLAQI), FALSAFI, DAN SYI’I
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua arah perkembangan. Ada tasawuf yang mengarah pada teori-teori perilaku; ada pula tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam. Pada perkembangannya, tasawuf yang berorientasi ke arah pertama sering di sebut sebagai tasawuf Salafi. Tasawuf Akhlaki, tasawuf Sunni. Tasawuf jenis ini banyak dikembangkan oleh kaum salaf. Adapun tasawuf yang berorientasikan ke arah kedua disebut sebagai tasawuf falsafi. Tasawuf jenis kedua banyak dikembangkan para sufi yang berlatar belakang sebagai filosof, disamping sebagai sufi.
Pemnbagian dua jenis tasawuf di atas didasarkan atas kecendrunganajaran yang dikembangkan, yakni kecendrungan pada pemikiran. Dua kecendrungan ini terus berkembang hingga masing-masing mempunyai jalan sendiri-sendiri, untuk melihat perkembangan tasawuf ke arah yang berbeda ini, perlu dilihat lebih jauh tentang gerak sejarah perkembangannya.
A.SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF SALAFI ( AKHLAQI)
Pada mulanya, tasawuf merupakan perkembangan dari pemahaman tentang makna institusi-institusi Islam. Sejak zaman sahabat dan tabi’in, kecendrungan pandangan orang terhadap ajaran Islam secara lebih analitis mulai muncul. Ajaran Islam mereka dapat dipandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriah [seremonial] dan aspek batiniah [spiritual], atau aspek “dalam”. Pendalaman dan pengalaman aspek “dalamnya” mulai terlihat sebagai hal yang paling utama, tentunya tanpa mengabaikan aspek “luarnya” yang di motivasikan untuk membersihkan jiwa. Tanggapan perenungan mereka lebih beroriantasi pada aspek “dalam”, yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan keagungan Tuha n dan bebas dari egoisme.
Sejarah dan perkembangan tasawuf salafi [akhlaki] mengalami beberapa fase barikut.
1.Abad Kesatu dan Kedua Hijriyah
Di sebut juga dengan fase asketisme [zuhud]. Sikap asketisme [zuhud] ini banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Fase asketisma ini tumbuh pada abad pertama dan kedua Hijriyah. Pada masa ini, terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah. Mereka menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupannya, yaitu tridak mementingkan makanan, pakaian maupun tempat tinggal. Mereka lebih nayak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, yang menyebabkan mereka lebih memusatkan diri pada jalur kehidupan dan tingkah laku yang asketis. Tokoh yang sangat populer dikalangan mereka addalah Hasan Al-Bashri [meninggal pada 110 H] dan Rabi’ah Al-Adawiyah [meningga pada 185 H]. Kedua tokoh ini dijuluki sebagai zabhid.

2.Abad Ketiga Hijriyah
Sejak abad ketiga Hijriyah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa fan tingkah laku. Perkembangan doktrin-doktrin dan tinbgkah laku sufi ditandai dengan upaya menegakkan moral di tengah terjadinya dekadensi moral yang berkembang ketika itu, sehingga di tanag mereka, tasawuf pun berkembang menjadi ilmu moral keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan. Pembahasan mereka tentang moral, akhirnya, mendorongnya untuk semakin mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan akhlak.
Kajian yang berkenaan dengan akhlak ini menjadikanh tasawuf terlihat sebagai amalan yang sangat sederhana dan mudah dppraktikkan semua orang. Kesederhanaanya dapat dilihat dari kemudahan landasan-landasan atau alur berpikirnya. Tasawuf pada akhir yang sederhana ini tampaknya banyak ditampilkan oleh kaum salaf. Perhatian mereka lebih tertuju pada realitas pengalaman Islam dalam praktik yang lebih menekankan keterpujian perilaku manusia.
Mereka melaksanakan amalan-amalan tasawuf dengan menampilkan akhlak-akhlak atau moral yang terpuji, dengan maksud memahami kandungan batiniah ajaran Islam yang mereka nilai banyak mengandung muatan anjuran untuk berakhlak terpuji. Kondisi ini mulai berkembang di tengah kehidupan lahiriah yang sangat formal dan cenderung kurang diterima oleh mereka yang mendambakan konsitensi pengaalaman ajaran Islam sampai pada aspek terdalam. Oleh karena itu, ketika menyaksikan ketidak beresan perilaku [akhlak] di sekitarrnya, mereka menanamkan kembali akhlak mulia. Pada masa ini, tasawuf identilk dengan akhlak.
Pada abad ketiga terlihat perkembangan tasawuf yang pesat, ditandai dengan adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang masa itu, mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu:
a. Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa, yaitu tasawuf yang berisi suatu metode tang lengkap tentang pengobatan jiwa, yang mengkonsentreasikan kejiwqan manusia kepaqda Khaliqnya, sehingga ketegangan kejiwaan akibat pengaruh keduniaan dapat teratasi dengan baik. Kenyataanya, inti tasawuf ini dijadikan dasar teori oleh pisikiater zaman sekarang dalam mengobati pasiennya. Dengan demikian, pengenalan teoretis yang berdasarkan inti ajaran tasawuf, dapat mengaruhi keutuhan tingkat kesadaran mental dan kejiwaan seseorang yang mampu memahaminya.
b. Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak; yaitu didalamnya terkandung petunjuk-petunjuk tentang cara berbuat baik serta cara menghindarkan keburukkan; yang dilengkapi dengan riwayat dari kasus yang pernah dialami oleh para sahabat Nabi.
c. Tasawuf yang berintikan metafisika; yaitu didalamnya, terkandung ajaran yang melukiskan hakikat ilahi, yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak, serta melukiskan sifat-sifat Tuhan, yang menjadi alamat bagi orang-orang yang akan tajalli kepada-Nya.
3.Abad Keempat Hijriyah
Abd ini ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkanb pada abad ketiga hijriyah, karna usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawufnya masing-masing. Akibatnya, kota Baghdad yang hanya satu-satunya koa yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf yang paling besar sebelum masa itu, tersaingi oleh kota-kota besar lainnya.
Upaya untuk mengembangkan ajaran tasawuf diluar kota Baghdad, dipelopori oleh beberapa ulama tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain:
a. Musa Al-Anshary; mengajarkan ilmu tasawuf di Khurassan [persia atau Iran],dan wafat disana tahun 320 H.
b. Abu Hamid bin Muhammad Ar-Rubazy; mengajarkannya di salah satu kota di Mesir, dan wafat di sana tahun 322 H.
c. Abu Zaid Al-Adamy; mengajarkannya di Semenanjung Arabiah, dan wafat di sana tahun 314 H.
d. Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab As-Sqafi; mengajarkannya di Naisabur dan kota Syarzaz, hingga ia wafat tahun 328 H.

Perkembangan tasawuf di berbagai negeri dan kota tidak mengurangi perkembangan tasawuf di kota Baghdad. Bahkan penulisan kitab-kitab tasawuf di sana mulai bermunculan, misalnya kitab Qutubul Qulbi Fi Mu’amalatil Mahbub, yang dikarang oleh Abu Thalib Al-Makky [meninggal di baghdad tahun 386 H].
Dalam pengajaran ilmu tasawuf di berbagai negeri dan kota, para ulama tersebut menggunakan sistem tarekat, sebagaimana yang dirintis oleh para ulama tasawuf pendahulunya. Sitem tersebut berupa pengajaran dari seorang guru terhadap murid-muridnya yang bersifat teoritas serta bimbingan langsung mengenai cara pelaksanaannya yang disebut “suluk” dalam ajaran tasawuf.
Sistem pengajaran tasawuf yang sering disebut tarekat, diberi nama yang sering dinisbatkan kepada nama penciptanya [gurunya], atau sering pula dinisbatkan kepada lahiarnya kegiatan tarekat itu.
Ciri-ciri lain yang terdapat pada abd ini, ditandai dengan semakin kuatnya unsur filsafat yang memengaruhi corak tasawuf, karena banyakna buku filsafat yang tersebar di kalangan umat Islam dari hasil terjemahan oranfg-orang muslim sejak permulaan Daulah Abbasiyah. Pada abad ini pula mulai dijelaskannya perbedaan ilmu zahir dan ilmu batin, yang dapat dibagi oleh ahli tasawuf menjadi empat macam, yaitu:
a. Ilmu Syariah
b. Ilmu Tariqah
c. Ilmu Haqiqah
d. Ilmu Ma’rifah

4.Abad Kelima Hijriyah
Pada abad kelima ini muncullah Imam Al-Ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdaqsarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bertujuan asketisme, kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang tasawuf dikajinya dengan begitu mendalam. Di sisi lain, ia melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof, kaum M u’tazilah dan Batiniyah. Al-Ghazali-lah yang berhasil memancangkan prinsip-prinsip tasawuf yang moderat, yang sering dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, dan bertentangan dengan tasawuf Al-Hajj dan Abu Yazid Al-Bustami, terutama mengenai soal karakter manusia.
Tasawuf pada abad kelima Hijriyah cenderung mengadakan pembaharuan, yakni dengan mengembalikannya ke landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qusyairi dan Al-Haraqwi dipandang sebagai tokoh sufi yang paling menonjol pada abad ini yang memberi bentuk tasawuf Sunni. Kitab Ar-Risaalah Al-Qusyairiyah memperlihatkan dengan jelas bagai mana Al-Qusyairi mengembalikan tasawuf keatas doktrin Ahlussunnah. Dalam penilaiannya, ia menegaskan bahwa para tokoh sufi aliran ini membina prinsip-prinsipn tasawuf atas landasan-landasan tauhgid yang benar sehingga doktrin mereka terpelihara dari penyimpangan. Selain itu, menurutnya, mereka lebih dekat dengan tauhid kaum salaf maupun Ahlussunnah yang menakjubkan. Al-Qusyairi secara implisit menolak para sufi yang mengajarkan syatahat, yang mengucapkan ungkapan-ungkapam penuh kesan terjadinya perpaduan antara sifat-sifat ketuhanan, khususnya sifat terdahulu-Nya, dengan sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat baharunya.
Tokoh lainnya yang seirama dengan Qusyairi adalah Abu Isma’il Al-Anshari, yang sering disebut dengan Al-Harawi. Ia mendasarkan tasawufnya pada doktrin Ahlussunnah. Ia bahkan dipandang sebagai pengasas aliran pembaharuan dalam tasawuf dan penentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapannya seperti Abu Yazid Al-Bustami dan Al-Hajj.
Dengan demikian, abad kelima Hijriyah merupakan tongggak yang menentukan bagi kejayaan tasawuf salafi [akhlaqi]. Pada abad tersebut, tasawuf salafi tersebar luas di kalangan dunia Islam. Fondasinya begitu dalam terpancang untuk jangka lama pada berbagai lapisan masyarakat Islam.
5.Abadd Keenam Hijriyah
Sejak abad keenam Hijriyah, sebagai akibat pengaruh keperibadian Al-Ghazali yang begitu besar, pengaruh tasawuf Sunni semakin meluas ke seluruh pelosok dunia Islam. Keadaan ini memberi peluang bagi munculnya para tokoh sufi yang membanggakan tarekat-tarekat dalam rangka medidik para muridnya, seperti Sayyaid Ahmad Ar-Rifa’i [meninggal pada tahun 570 H] dan Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani [meninggal pada tahun 651H].
Tasawuf salafi [Aklaki], sebagaimana dituturkan Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah-nya, diwakili para tokoh sufi dari abad ketiga dan keempat Hijriyah, Imam Al-Ghazali, dan para pemimpin tarekat yang mengikutinya.
Al-Ghazali dipandang sebagai pembela terbesar tasawuf salafi [akhlaqi]. Pandangan tasawufnya seiring dengan para sufi aliran pertama, para sufi abad ketiga dan keempat Hijriyah. Di sampin itu, pandangan-pandangannya seiring denganAl-Qusyairi dal Al-Harawi. Namun dari segi kperibadian, keluasan pengetahuan dan kedalaman tasawuf al-Ghazali lebih besar dibanding semua tokoh di atas. Ia sering diklaim sebagai seorang sufi terbesar dan terkuat pengaruhnya dalam khazanah ketasawufan di dunia Islam.
B.SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF FALSAFI
Tasawuf falsafi, disebut pula dengan tasawuf nazhari, merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional sebagai pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf ssalafi (akhlaqi), tasawuf filosofis menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi filosofis tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah memengaruhi para tokohnya. Tasawuf filosofis ini mulai muncul dengan jelas dalam khazanah Islam sejak abad keenam Hijriyah, meskipun para tokohnya bbaru dikenal seabad kemudian. Sejak itu tsaswuf jenis ini terus hidup dan berkembang, terutama di kalangan para sufi yang juga filosof, sampai menjelang akhir-akhir ini.
Pemaduan antara tasawuf dan filsafat telah membuat ajaran-ajaran tasawuf filosofis bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat di luar Islam, seperti Yunani, Persia, India, dan agama Nashrani. Namun, orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang, karena para tokohnya ̶ meskipun mempunyai latar belakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda sejalan ekspansi Islam yang telah meluas pada waktu itu ̶ tetap berusaha menjaga kemandirian ajaran-ajarannya, terutama bila dikaitkan dengan kedudukan mereka sebagai umat Islam. Sikap ini dapat menjawab pertanyaan mengapa para tokoh tasawuf filosofis begitu gigih mengompromikan ajaran-ajaran filsafat yang berasal dari luar Islam kedalam tasawuf mereka, serta menggunakan terminologi filsafat yang maknnya telah disesuaikan dengan ajaran-ajaran tasawuf yang mereka anut.
Para sufi yang juga filosof pendiri aliran tasawuf filosofis mengenal dengan baik filsafat Yunani serta berbagai alirannya misalnya Socrates, Plato, Aristoteles, aliran Stoa, dan aliran Neo Platonisme. Bahkan, mereka cukup akrab dengan filsafat yang seringkali disebut Hermetisme, yang karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahsa arab, dan filsafat-filasafat Timur Kuno, baik dari persia maupun India, serta menelaah filsafat-filsafat para filosof muslim, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain. Mereka pun dipengaruhi aliran batiniah sekte isma’iliyyah dari aliran Syi’ah dan risalah-risalah Ikhwan Ashafa. Di samping itu, mereka memiliki pemahaman yang luas di bidang ilmu-ilmiu agama, seperti fiqh, kalam, hadis, serta tafsir. Jelasnya, mereka bercorak ensiklopedis dan berlatar belakang budaya yang bermacam-macam.
Selama abad kelima Hijriyah, aliran tasawuf salafi [akhlaqi] terus tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, aliran tasawuf falsafi mulai tenggelam dan muncul kembali dengan bentuk lain pada pribadi-pribadi sufi yang juga filosof pada abad keempat Hijriyah dan setelahnya. Tenggelamnya aliran yang kedua ini pada dasarnya merupakan imbas kejayaan aliran teologi Ahlussunnah wal Jama’ah di atas aliran-aliran lainnya. Diantara kritik keras teologi Ahlussunnah wal Jama’ah dialamatkan pada keskstreman tasawuf Abu Yazid Al-Bustami, Al-Hallaj, dan para sufi lain yang ungkapan-ungkapannya terkenal ganjil, termasuk kecamannya terhadap berbagai penyimpangan lainnya yang mulai timbul dikalangan tasawuf. Kejayaan rasawuf sunni diakibatkan oleh kepiawaian Abu Hasan Al-Asy’ari [wafat 32 H] dalam menggagas pemikiran-pemikiran Sunninya, terutama dalam bidang ilmu kalam.
Sejak abad keenam Hijriyah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah. Artinya, disebut murni tasawuf bukan, dan disebut murni filsafat juga bukan. Di antara mereka terdapat Syukhrawandi Al-Maqtul [meninggal pada tahun 549 H], penyusun kitab Hikmah Al-Isyariqiyah, Syekh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi [meninggal pada tahun 638 H], penyair sufi Mesir, Ibnu Faridh [meninggal pada tahun 632 H], Abdul Haqq Ibnu Sab’in Al-Mursi [meninggal pada tahun 669 H],l serta tokoh-tokoh lainnya yang sealiran. Mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat asing, seperti filsafat Yunani dan Khususnya Neo Platonisme. Mereka pun banyak mempunyai teori mendalam mengenai soal jiwa, moral, pengetahuan, wujud dan sangat bernilai baik ditinjau dari segi tasawuf maupun filsafat, dan berdampak besar bagi para sufi mutakhir.
Dengan munculnya para sufi dan juga filosof ini, orang-orang mulai membedakan dengan tasawuf yang mula-mula berkembang, yakni tasawuf akhlaqi. Pada penyebutan selanjutnya, tasawuf akhlaqi ini kemudian identik dengan tasawuf Sunni dilihat pada upaya yang dilakukan oleh sufi-sufi dalam memagari tasawufnya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan demikian, jelas sekali adanya klasifikasi aliran tasawuf menjadi dua, yaitu tasawuf sunni yang lebih berorientasi menampilkan oenokohan akhlaq, dan tasawuf falsafi, yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya [ayathahiyat] dalam ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Ungkapan-ungkapan syathahiyat itu bertolak dari keadaan fana menuju pernyataan tentang terjadinya pentyatuan ataupun hulul.
Tokoh pertama yang dapat dipandang sebagai tokoh tasawuf falsafi adalah Ibn Masarrah [dari Cardova, Andalusia; w.319/1931]. Ia adalah filosof pertama yang muncul di Andalusia dan sekaligus ia disebut sebagai filosof sufi pertama di dunia Islam. Ia menganut paham emanasi Plotinus [w. 270 M] Tingkatan-Tingkatan wujud yang memancar dari Tuhan, dalam pahamnya, adalah materi pertama yang bersifat rohaniyah, kemudian akal universal, diikuti jiwa universal, kemudian natur universal, dan terakhir materi kedua yang bersifat murakkab [tersusun]. Menurutnya, melalui jalan tasawuf, manusia dapat melepaskan jiwanya dari belengu penjara badan, dan memperoleh karunia Tuhan. Itulah makrifat yang memberikan kebahagiaan sejati. Ia juga menganut paham bahwa kehidupan ukhrawi itu bersifat rohaniah spiritual.
Sufi kedua yang juga berpengetahuan luas dalam bidang filsafat, adalah uhrawandi Al-Maqtul [dari Suhrawandi, Persia; dibunuh di Aleppo pada 587/1191]. Ia juga menganut paham emanasi Al-Farabi atau Ibn Sina.
Bila tasawuf Sunni memperoleh bentuk yang final pada pengajaran Al-Ghazali, tasawuf falsafi mencapai puncak kesempurnaannya pada pengajaran Ibn Arabi [sufi Andalusia, wafat di Damaskus pada 638/1240]. Dengan pengetahuannya yang amat kaya, baik dalam lapangan keislaman maupun dalam lapangan filsafat, ia berhasil membuat karya tulis yang luar biasa banyaknya [di antaranya, futuhat Al-Makkiyah dan Fushuh Al-Hikam]. Hampir semua praktik, pengajaran dan ide-ide yang berkembang dikalangan kaum sufi diliputinya dengan penjelasan-penjelasan yang memadai. Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang kesatuan wujud [wahdah al-wujud]. Menurutnya, wujud itu hanyalah satu; itulah wujud yang berdiri dengan dirinya sendiri. Itulah Yang Mahabenar [Al-Haqq] atau Tuhan. Alam yang banyak ini tidaklah berwujud dengan wujud alam sendiri, tetapi alam ini berwujud dengan wujud Tuhan. Wujud alam ini adalah khayal, dengan pengertian bahwa ia tampak sebagai wujud yang berdiri sendiri, padahal sebenarnya berwujud dengan wujud Tuhan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa wujud Tuhan dan alam adalah satu, buakn dua atau banyak. Alam yang banyak dan beragam ini merupakan manifestasi atau penampakan diri wujud yang satu itu.
C.SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF SYI’I
Di luar dua aliran tasawuf di atas, ada juga yang memasukan tasawuf aliran ketiga, yaitu tasawuf Syi’i atau Syi’ah. Pembagian tasawuf aliran ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan Tuhan. Kaum Syi’ah merupakan golongan yang dinisbatkan kepada pengikit Ali bin Abi Thalib. Dalam sejarahny, setelah peristiwa Perang Shiffin [yakni perang antara pendukung kekhalifahan Ali dengan pendukung Muawiyyah bin Abu Sufyan], para pendukung fanatik Ali memisahkan diri, dan banyak berdiam di daratan Persia. Daratan persia terkenal sebagai daerah yang telah banyak mewarisi tradisi pemikiran semenjak Imperium Persia berjaya, dan di Persia inilah, kontak budaya antara Islam dan Yunani telah berjalan sebelum dinasti Islam berkuasa di sini. Keyika itu, di daratan Persia sudah berkembang tradisi ilmiah. Pemikiran-pemikiran kefilsafatan juga sudah berkembang di daratan ini sebelum di wilayah-wilayah Islam lainnya. Oleh karena itu, perkembangan tasawuf Syi’i dapat ditinjau melalui kacamata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran-pemikiran filsafat Yunani. Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah telah menyinggung soal kedekatan kaum Syi’ah dengan paham tasawuf. Ia melihat kedekatan tasawuf filosofis dengan sekte Isma’iliyah dari Syi’ah. Sekte Isma’iliyah inilah yang menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan para imam mereka. Menurutnya, antara kedua kelompok ini terdapat keserupaan, khususnya dalam persoalan “qhutb” dan “abdal”. Bagi para sufi filosof, qhutb adalah puncaknya kaum ‘arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa doktrin seperti ini mirip dengan doktrin aliran Isma’iliyah tentang imam dan para wakil. Begitu juga, tentang pakaian compang-camping yaitu disebut-sebut berasal dari Imam Ali.
Sementara itu, Azyumardi Azra tidak membedakan antara Syi’ah dengan Sunni dalam persoalan tasawuf. Dengan alasan pertama, tidak dikenal dalam terminologi Islam, yang dikenal dengan tasawuf Syi’i sebab yang ada hanya tasawuf dan tasawuf dibagi dua. Yang pertama tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang menekankan aspek filosofis. Tasawuf ini berkenaan dengan konsep mahabbah, ma’rifah, hulul, wihdatul wujud, dan lain-lain. Karena falsafi, sebagaimana corak filsafat, cenderung spekulatif. Filsafat apa pun adalah spekulatif. Tasawuf yang falsafi juga spekulatif.
Di dalam tradisi Syi’ah, dua aliran tasawuf [akhlaqi dan falsafi] juga diadopsi. Imam Ayatullah Khomeini juga menekankan dua hal ini. Beliau pernah membuat komentar mengenai kitab yang ditulis Ibnu ‘Arabi, Fushul Hikam, tetapi orang Syi’ah banyak yang lebih menekankan pada tasawuf ‘amali. Jadi, dalam tasawuf tidak ada perbedaan antara Syi’ah dengan Sunni. Bahkan, banyak juga orang Syi’ah yang menganut tasawuf Al-Ghazali, yang menekankan tasawuf ‘amali.
Di sisi lain, Ath-Thabathaba’i mencoba menjelaskan bahwa tasawuf pada dasarnya berasal dari Syi’ah. Ia menjelaskan bahwa ilmu makrifat atau tasawuf seperti diamati pada masa kini, mula-mula timbul dalam dunia Sunnah kemudian di kalangan kaum Syi’ah. Orang yang menyaakan dsecara terbuka sebagai sufi dan penganut ilmu makrifat, dan diakui sebagai mursyid atau guru rohani dari tarekat orang-orang sufi, dalam bidang fiqh Islam tampaknya mengikuti faham Sunni. Banyak mursyid yang mengikuti mereka dan menyebarkan ajaran tarekat yang juga pengikut Sunni dan fiqh. Walaupun begitu, para mursyid ini menarik mata rantai silsilah kerohanian mereka, yang dalam kehidupan rohani seperti silsilah keturunan dari seseorang, melalui mursyid-mursyid mereka yang terdahulu kepada Ali, juga hasil kasysyaf [vision] dan ilham mereka, seperti diriwayatkan, kebanyakan memuat kebenaran mengenai keesaan Ilahi dan martabat kehidupan rohani, yang terdapat dalam ucapan-ucapan Ali dan para Imam Syi’ah lainnya.
Hal ini bisa kita lihat, jika tak terpengaruh oleh beberapa ungkapan tajam dan kadang-kadang mengejutkan dari para guru tasawuf ini dan merenungkan kesekuruhan isi ajaran-ajaran mereka dengan tenang dan sabar. Kewalian sebagai hasil dari tuntunan ke jalan kerohanian yang dianggap oleh para sufi sebagai kesempurnaan manusia, adalah suatu keadaan yang menurut kepercayaan Syi’ah dipunyai sepenuhnya oleh Imamdan melalui pancaran wujudnya bisa dicapai oleh para pengikutnya yang setia. Dan puncak kerohanian [quthub] yang kehadirannya dianggap perlu oleh semua kaum sufi di sepanjang zaman ̶̶̶̶ ̶ ̶ sebagaimana juga sifat-sifatyang dikaitkan dengannya̶ ̶ ̶ ada pertaliannya dengan konsepsi kaum Syi’ah mengenai Imam. Sesuai dengan ucapan ahlul bait, imam, atau menurut istilah kaum sufi, “Manusia Universal”, adalah manifestasi nama-nama Ilahi dan bimbingan kerohanian terhadap kehidupan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, orang bisa berkata dengan mempertimbangkan knsepsi kaum Syi’ah mengenai walayat, bahwa dari sudut pandangan bentuk lahiriah agama, mereka mengikuti mazhab fiqh Sunni.
Perlu disebutkan di sisni bahwa dalam uraian-uraian Sunni klasik kadang-kadang dikatakan bahwa metode kerohanian dari thariqah atau cara-cara yang dapat menyampaikan seseorang pada pengetahuan dan kesadaran tentang dirinya tidak bisa diterangkan melalui bentuk-bentuk dan ajaran yang lahir dari Syari’at. Bahkan, sumber-sumber bahwa pribadi-pribadi muslim sendiri menemukan berbagai metode dan amal, yang kemudian diteriama Tuhan, seperti halnya kehidupan biara dalam agama Nashrani. Oleh karena itu, para mursyid menyusun amalan-amalan tertentu yang dianggap perlu dalammetode kerohanian, seperti bentuk upacara penerimaan murid oleh mursyid, rinci-rinci cara yang di dalamnya dzikir-dzikir diajarkan kepada sang murid baru bersama pengenalan jubah kepadanya, dan pengguan musik, nyanyian dan cara-cara lain yang menyebabkan fana’[ekstase] selama mentebutkan nama-nama Tuhan.
BAB III PENUTUP
A.KESIMPULAN
Sejarah perkembangan tasawuf terbagi kepada tiga aliran Tasawuf, aliran pertama adalah aliran Tasawuf Salafi [Akhlaqi], aliran kedua adalah aliran tasawuf Falsafi, dan aliran ketiga adalah aliran Tasawuf Syi’i. Tasawuf aliran pertama mengalami Bereberapa fase yakni Pada abad kesatu dan kedua hijriyah disebut dengan fase asketisme [Zuhud], Abad ketiga hijriyah fase terlihatnya perkembangan tasawuf yang pesat, Abad keempat hijriyah fase kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan abad ketiga hijriyah, Abad kelima hijriyah fase kemunculan imam Al-Ghazali, fase yang cenderung mengadakan pembaharuan, yakni dengan mengembalikan ke landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan Abad keenam hijriyah fase pengaruh tasawuf Sunni semakin luas ke seluruh pelosok dunia Islam. Aliran kedua yakni aliran Tasawuf Falsafi disebut pula dengan Tasawuf nazhari, yakni tasawuf yang ajaran-ajarannya memedukan antara visi mistis dan visi rasional sedbagai pengasasnya. Dan Aliran ketiga yakni aliran Tasawuf Syi’iatau Syi’ah didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan Tuhan.
B.SARAN
Setelah penjelasan dalam makalah ini, sebagai manusia biasa penulis memohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam penjabaran masalah atau penyimpangan-penyimpangannya. Penulis menerima saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Kalabadzi, al-Ta’arruf li Madzhab ahl al-Tashawuf (al-Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, Cairo, 1969) h. 28
2. Prof. Dr. M. Solihin, M.Ag, ILMU TASAWUF Bab 3 Hal 61-71 (CV Pustaka Setia Bandung)
3. Ibrahim Basuni, Nasy’ah al-Tashawuf al-Islami, Juz III (Dar al-Maarif, Mesir, 1119), h. 9
4. Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filasafat dan Tawawuf (Dirasah Islamiyah IV)(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 153